TUBEKTOMI
A. Pengertian
Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita yang
mengakibatkan orang yang bersangkutan tidak akan mendapatkan keturunan lagi.
Kontrasepsi ini hanya dipakai untuk jangka panjang, walaupun kadang-kadang
masih dapat dipulihkan kembali seperti semula.
Tubektomi untuk mencegah bertemunya sel telur dan sperma (pembuahan) dengan
cara menutup saluran telur tanpa mengubah indung telur dalam rahim. Sebelum
melakukan tubektomi terlebih dahulu kita lakukan konseling yaitu tim medis atau
konselor harus menyampaikan informasi lengkap dan objektif tentang keuntungan
dan keterbatasan berbagai metode kontrasepsi itu. Jangka waktu efektif
kontrasepsi, angka kegagalan, komplikasi dan efek samping dan kesesuaian kerja
kontrasepsi dengan karakteristik dan keinginan klien
Kontrasepsi tubektomi pada wanita atau tubektomi yaitu tindakan memotong
tuba fallopii/tuba uterina.
Tubektomi pada
wanita adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita atau tuba
fallopii yang mengakibatkan wanita tersebut tidak dapat hamil atau tidak
menyebabkan kehamilan lagi. Dahulu tubektomi dilakukan dengan jalan laporotomi
atau pembedahan vaginal. Sekarang, dengan alat-alat dan teknik baru, tindakan
tubektomi dilakukan secara lebih ringan dan tidak memerlukan perawatan di rumah
sakit.
Dalam
tahun-tahun terakhir tubektomi merupakan salah satu bagian yang penting dalam
program keluarga berencana di banyak Negara. Di Indonesia sejak tahun 1974
telah berdiri Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI), yang membina
perkembangan metoda dengan opersai (M.O) atau kontrasepsi mantap secara
sukarela, tetapi secara resmi tubektomi tidak termasuk kedalam program nasional
keluarga berencan di Indonesia.
B. Keuntungan Tubektomi
1.
Motivasi
hanya dilakukan sekali, sehingga tidak diperlukan motivasi berulang-ulang.
2. Efektivitas hampir 100%
3. Tidak mempengaruhi libido seksualitas
4. Kaegagalan dari pihak pasien tidak ada
5. Sangat efektif dan permanen
6. Dapat mencegah kehamilan lebih dari 99%
7. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
8. Tidak mempengaruhi proses menyusui
9. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi
local
10. Tidak bergantung pada
faktor senggama
11. Baik bagi klien apabila
kehamilan akan menjadi resiko kehamilan yang serius
12. Tidak ada perubahan dalam
fungsi seksual
C. Kerugian Tubektomi
Tindakan ini dapat
dianggap tidak ireversibel, walaupun memang ada kemungkinan untuk membuka tuba
kembali pada mereka yang akhirnya masih menginginkan anak lagi dengan operasi rekanalisasi.
Oleh karena itu, penutupan tuba hanya dapat dikerjakan pada mereka yang
menpunyai syarat-syarat tertentu.
Keterbatasan tubektomi
1. Harus dipertimbangkan sifat permanan
metode kontrasepsi
2. Klien dapat menyesal dikemudian hari
3. Resiko komplikasi kecil (meningkat
apabila digunakan anestesi umum)
4. Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam
jangka pendek setelah tindakan
5. Dilakukan oleh dokter yang terlatih
6. Tidak melindungi diri dari IMS HBV
dan HIV/AIDS
D. Indikasi Metode Dengan
Operasi ( M.O)
1. Indikasi medis umum
Adanya gangguan fisik atau psikis yang akan menjadi lebih berat bila wanita
hamil lagi.
a. Gangguan fisik
Tuberkulosis pulmonum, penyakit jantung, penyakit ginjal, kanker payudara
dan sebagainya.
b. Gangguan psikis
Skijofremia (psikosis), sering menderita psikosa nifas, dan lain-lain.
2. Indikasi medis obstetrik
Toksemia gravidarum yang berulang, seksio sesar berulang, histerektomi dan
sebagainya.
3. Indikasi medis ginekologik
Pada waktu melakukan operasi ginekologis dapat pula dipertimbangkan untuk
sekaligus melakukan sterilisasi.
4. Indikasi sosial ekonomi
Indikasi berdasarkan beban sosial ekonomi yang sekarang ini terasa betambah
lama betambah berat.
5. Cukup anak untuk dilakukan kontap
sebaiknya dilakukan setelah umur ibu x banyaknya anak.
E. Syarat
Setiap peserta kontap
harus memenuhi 3 syarat, yaitu :
1. Sukarela
Setiap calon peserta
kontap harus secara sukarela meneriam pelayanan kontap, artinya secara sadar
dan dengan kemauan sendiri memeilih kontap sebagai cara kontrasepsi.
2. Bahagia
Setiap calon peserta
kontap harus memenuhi syarat bahagia, artinya :
·
Calon
peserta tesebut dalam perkawinan yang sah dan harmonis dan telah dianugerahi
sekurang-kurangnya 2 orang anak yang sehat rohani dan jasmani
·
Biala
hanya mempunyai 2 orang anak, maka anak yang paling kecil berumur sekitar 2
tahun
·
Umur
isteri paling muda sekitar 25 tahun
3. Kesehatan
Setiap calon peserta
kontap harus memenuhi syarat kesehatan, artinya tidak di temukan adanya
hambatan atau konta indikasi untuk menjalani kontap. Oleh karena itu setiap
calon peserta harus diperiksa terlebih dahulu kesehatannya oleh dokter,
sehingga diketahui apakah cukup sehat untuk dikontap atau tidak. Selain itu
juga setiap calon peserta kontap harus mengikuti konseling (bimbingan tatap
muka) dan menandatangani formulir persetujuan tindakan medik (Informed Consent)
F. Yang Dapat Menjalani
Tubektomi (MOW)
1. Usia
lebih dari 26 tahun
2. Sudah
punya anak cukup (2 anak), anak terkecil harus berusia minimal 5 tahun
3. Yakin
telah mempnyai keluarga yang sesuai dengan kehendaknya
4. Pada
kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius
5. Ibu
pasca persalinan
6. Ibu
pasca keguguran
G. Yang sebaiknya tidak
menjalani Tubektomi (MOW)
1.
Hamil
(sudah terdeteksi atau dicurigai)
2. Kencing manis (diabetes)
3. Penyakit jantung
4. Penyakit paru-paru
5. Perdarahan pervaginal yang belum diketahui sebabnya
(sehingga harus di evaluasi)
6. Infeksi sistemik atau pelvic yang akut ( hingga
masalah tersebut disembuhkan atau dikontrol)
7. Belum memberikan persetujuan tertulis
8. Baru 1 sampai 6 minggu pasca
persalinan
9. Terdapat infeksi atau masalah
pada organ kewanitaan
10. Kondisi kesehatan lain yang
berat seperti stroke, darah tinggi atau diabetes
H. Waktu Pelaksanaan Tubektomi
(MOW)
1. Setiap
waktu selama siklus menstruasi apabila di yakini secara rasional klien tersebut
tidak hamil
2. Hari
ke-3 hingga ke-13 dari siklus menstruasi
3. Pasca
persalinan
·
Minilap
: di dalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu atau 12 minggu
·
Laraproskopi
: tidak tepat untuk klien pasca persalinan
4. Pasca
keguguran
·
Triwulan
pertama : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap
atau laparoskopi)
·
Triwulan
kedua : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada bukti infeksi pelvik (minilap
saja)
I. Persiapan
Sebelum Tindakan Tubektomi (MOW)
Hal-hal yang perlu
dilakukan oleh calon peserta kontap wanita adalah :
1. Puasa
mulai tengah malam sebelum operasi, atau sekurang-kurangnya 6 jam sebelum
operasi. Bagi calon akseptor yang menderita maag (kelainan lambung agar makan
obat maag sebelum dan sesudah puasa)
2. Mandi
dan membersihkan daerah kemaluan dengan sabun mandi sampai bersih dan juga
daerah perut bagian bawah
3. Tidak
memakai perhiasan, kosmetik, cat kuku, dll
4. Membawa
surat persetujuan dari suami yang sudah di tandatangani atau di cap jempol
5. Menjelang
operasi harus kencing telebih dahulu
6. Datang
ke rumah sakit tepat pada waktunya, dengan di temani anggota keluarga
(sebaiknya suami)
J. Cara Tubektomi
1. Saat
Operasi : Tubektomi dapat dilakukan pasca keguguran, pasca persalinan atau masa
interval. Di anjurkan tubektomi pasca persalinan sebaiknya di lakukan dalam 24
jam, atau selambat-lambatnya dalam 48 jam setelah persalinan. Tubektomi pasca
persalinan lewat 48 jam akan dipersulit oleh udema tuba, infeksi, dan
kegagalan. Udema tuba akan berkurang setelah hari ke 7 – 10 hari pasca persalinan.
Tubektomi setalah hari itu akan lebih sulit dilakukan karena alat-alat genetal
telah mengecil dan berdarah
2. Cara
Mencapai Tuba
·
Laparotomi
: cara mencapai tuba melalui laratomi biasa, terutama pada masa pasca
persalinan
·
Minilaparotomi
: laparotomi khusus untuk tubektomi ini paling mudah dlakukan 1-2 hari pasca
persalinan. Uterus yang masih besar, tuba yang masih panjang, dan dinding perut
masih longgar memudahkan mencapai tuba dengan sayatan kecil sepanjang 1-2 cm di
bawah pusat
·
Laparoskopi
: pasien dengan posisi litotomi-Kanula Robin dipasang pada kanalis servikalis
dan bibir depan servik dijepit dengan tenakulum bersama-sama. Pemasangan
alat-alat ini di maksudkan untuk mengendalikan uterus selagi operasi dilakukan
·
Kuldoskopi
: pasien dengan pisisis menungging (posisi genupektoral) dan setelah speculum
·
Dimasukkan
dan bibir belakang di jepit dan uterus di tarik keluar dan agak ke atas.
Dilakukan fungsi dengan jarum tauhy di belakang uterus, dan melalui jarum
tersebut udara masuk dan usus-usus terdorong ke rongga perut. Setelah jarum
diangkat, lubang diperbesar, sehingga dapat dimasukkan kuldekop. Melalui
kuldeskop dilakukan pengamatan adneksa dan dengan lunam khusus tuba dijepit dan
di tarik keluar untuk dilakukan penutupan.
·
Kolpotomi
Posterior : pasien dalam posisi litotomi. Dinding belakang vagina di jepit pada
jarak 1 – 3 cm dari serviks dengan 2 buah cunam. Lipatan dinding vagina
dianatara kedua dijepit digunting sekaligus sampai menembus peritoneum. Lubang
sayatan diperlebar dengan dorongan speculum soonawalla. Tuba dapat langung
terlihat atau di pancing dan di taik keluar. Mukosa vagina dan peritoneum
dijahit secara jelujur, bersama atau di jahit sendiri-sendiri, lama perawatan
2-3 hari, seang anetesi yang dipakai ialah umum dan spinal.
3. Cara
Penutupan Tuba
1.
Teknik
Madlener (1919), caranya :
a. Buat loop tuba sekitar 3 cm
b. Tuba dikrus beberapa kali sehingga kanalisnya
mengalami kerusakan
c. Ikat dengan benang sutra yang tidak diserap
d. Selanjutnya tuba tidak dipotong, tuba yang sudah
dikrus (dilunakkan) ditanamkan dimesosalping
2. Teknik Irving (1925), caranya :
a. Tuba dipotong 2 cm disekitar isthmus
b. Bagian proksimal ditanamkan pada dinding uterus,
bagian distal ditanamkan pada mesosalping
c. Perdarahan dirawat, dinding abdomen ditutup
c. Perdarahan dirawat, dinding abdomen ditutup
3. Teknik Pomeroy (1930), teknik ini dianggap sebagai
golden standard karena mudah dan angka kegagalannya kecil :
a. Buat loop tuba sekitar 3 cm
b. Ikat dengan
catgut plain
c. Potong di atas jahitan dan biarkan, dinding abdomen
ditutup
4. Teknik Parkland
(1960) :
a. Tuba dipegang dengan babkok, ditarik sedikit ke atas
b. Mesosalping di bawahnya dibuka, untuk memasukkan
benang ikatan sebelah pada dua tempat yang dibuka
c. Tuba antara dua ikatan dipotong, perdarahan dirawat
dengan baik
5. Teknik Uchida (1960) :
a. Buat edema artificial dengan saline + epinefrin
sehingga tuba tampak putih
b. Tuba dikeluarkan, dipotong dan diikat di dua tempat
c. Bagian proksimal ditanam di bawah mesosalping, bagian
distal dibiakan kearah peritoneum, mesosalping dijahit kembali dan perdarahan
dirawat
6. Teknik Kroener (1960) – dilakukan dengan cara memotong
fimbriae, sehingga kemampuan untuk ovum pick up tidak ada, ujung ligamentum
infundibulo pelvikum dijahit sehingga tidak terjadi perdarahan.
7. Teknik Yoon ring (1970), menggunakan pita silastik
dengan diameter 1mm untuk menjepit loop tuba. Dapat dilakukan melalui
laparoskopi maupun laparotomi dengan alat aplikatornya yang dapat menarik tuba
sekitar 3 cm, sehingga tuba mengalami iskemia, lama-kelamaan loop akan putus
dan pita silastik tertanam di mesosalping.
8. Teknik Koagulasi, dilakukan secara laparoskopi, dengan
unipolar atau bipolar. Aliran listrik yang dialirkan dapat menyebabkan
koagulasi jaringan tuba dan mesosalping sehingga kanalisnya tertutup. Besarnya
koagulasi tergantung pada lama dan besanya aliran listrik yang dialirkan
9. Teknik Ulka klip, isthmus dipegang dengan dua klem
babkok, diantara keduanya dipasang ulka klip, dapat dilakukan dengan
laparoskopi maupun laparotomi.
K. Perawatan Setelah Tindakan
Tubektomi (MOW)
1. Istirahat
selama 1-2 hari dan menghindari pekerjaan berat selama 7 hari
2. Kebersihan
harus dijaga terutama daerah luka operasi jangan sampai terkena air selama 1
minggu ( sampai benar-benar kering )
3. Makanlah
obat yang diberikan dokter secara teratur sesuai petunjuk
4. Senggama
boleh dilakukan setelah 1 minggu, yaitu setelah luka operasi kering. Tetapi
bila tubektomi dilaksanakan setelah melahirkan atau keguguran, maka senggama
baru boleh dilakukan setelah 40 hari.
L. Kembalinya
Kesuburan
Karena metode tubektomi merupakan
kontrasepsi permanen, sebelum mengalami keputusan untuk tubektomi, istri dan
suami terlebih dahulu harus mempertimbangkanya secara matang . meskipun saluran
telur yang tadinya dipotong atau diikat dapat disambung kembali , namun tingkat
untuk hamil lagi sangat kecil
Pesan kepada klien
sebelum pulang
Pada minggu pertama
segera kembali jika :
1.
Demam tinggi
2.
Ada nanah atau luka berdarah,
3.
Nyeri, panas, bengkak, luka kemerahan
4.
Nyeri berlanjut/semakin parah, kram nyeri perut
5.
Diare
6.
Pingsan atau sangat pusing
7.
Segera kembali jika merasa hamil, nyeri para perut
atau sering pingsan
Informasi Umum
1.
Nyeri bahu selama 12-24 jam setelah laparoskopi
relatif lazim dialami karena gas (CO2atau udara) dibawah diafragma
sekunder terhadap pneumo-peritoneum.
2.
Tubektomi efektif setelah operasi
3.
Periode menstruasi akan berlanjut seperti biasa
(apabila mempergunakan metode hormonal sebelum prosedur khususnya PK atau KSK,
jumlah dan durasi haid dapat meningkatkan setelah pembedahan).
4.
Tubektomi tidak memberikan perlindungan pada IMS
(Infeksi Menular Seksual) termasuk virus AIDS apabila pasangannya beresiko,
pasangannya mempergunakan kondom bahkan setelah tubektomi.
MEDIS
OPERASI PRIA (MOP)
VASEKTOMI
A. Pengertian
Kontrasepsi mantap
(kontap) merupakan suatu tindakan untuk membatasi keturunan dalam jangka waktu
yang tidak terbatas, yang dilakukan terhadap salah seorang dari pasangan suami
isteri atas permintaan yang bersangkutan, secara mantap dan sukarela. Kontap
dapat di ikuti baik oleh wanita maupun pria. Tindakan kontap pada wanita
disebut kontap wanita atau MOW (Metoda Operasi Wanita) atau tubektomi,sedangkan
pria atau MOP (Metoda Operasi Pria) atau vasektomi, yaitu tindakan pengikatan
dan pemotongan saluran benih agar sperma tidak keluar dari buah zakar.
B .Jenis
Vasektomi
Jenis-jenis Vasektomi
ada 3 macam, yakni :
1. Vasektomi
Metode Standar (Insisi Skrotum)
Vasektomi ini dimulai
dengan melakukan anestesi/bius lokal ke daerah pertengahan skrotum. Kemudian
dilakukan sayatan 1-2cm diatasnya. Bila saluran sudah tampak maka saluran akan
dipotong, lalu kedua ujungnya akan diikat. Hal sama akan dilakukan pada saluran
sperma satunya. Kemudian luka ditutup dengan penjahitan (Agnesa, 2012). Metode
vasektomi pada umumnya mempunyai kelemahan yaitu memerlukan irisan pada kulit
skrotum dengan scalpel dan memegang vas deferens secara blind .
2. Vasektomi
Tanpa Pisau (VTP atau No-scalpel Vasectomy)
Vasektomi Tanpa Pisau
merupakan penyederhanaan dan penyempurnaan teknik vasektomi yang diharapkan
dapat memperkecil komplikasi dan mempermudah permasyarakatannya terutama untuk
orang yang takut pisau operasi. Waktu yang diperlukan untuk tindakan VTP paling
cepat adalah 4 menit dan paling lambat 16 menit. Pada kelompok akseptor VTP
tidak ditemukan komplikasi pasca tindakan, sedangkan pada kelompok akseptor
Vasektomi Metode standar ditemukan 1 kejadian infeksi luka operasi. Metode VTP
dalam hal kemudahan lebih baik, sedangkan dalam hal keamanan dan efektivitasnya
tidak berbeda dengan metode vasektomi standar. (Dachlan I, dan Sungsang
R,1999).
3. Vasektomi
Semi Permanen
Vasektomi Semi
Permanen yakni vas deferen yang diikat dan bisa dibuka kembali untuk berfungsi
secara normal kembali dan tergantung dengan lama tidaknya pengikatan vas
deferen, karena semakin lama vasektomi diikat, maka keberhasilan semakin kecil,
sebab vas deferen yang sudah lama tidak dilewati sperma akan menganggap sperma
adalah benda asing dan akan menghancurkan benda asing (Agnesa, 2012).
C. Indikasi Vasektomi
Pada dasarnya
indikasi untuk melakukan vasektomi adalah pasangan suami istri yang tidak
menghendaki kehamilan lagi dan pihak suami bersedia bahwa tindakan kontrasepsi
dilakukan pada dirinya.
D. Kontra Indikasi Vasektomi
Sebenarnya
tidak ada kontra indikasi untuk melakukan vasektomi, hanya apabila ada kelainan
lokal atau umum yang dapat menggangu sembuhnya luka operasi, kelainan tersebut
harus disembuhkan telebih dahulu.
E. Yang dapat menjalanankan
Vasektomi (MOP)
Untuk laki-laki subur
yang sudah mempunyai anak cukup (2 anak) dan istri beresiko tinggi Syarat-syarat menjadi akseptor:
·
Harus
secara sukarela.
|
|
·
Mendapat
persetujuan istri.
|
|
·
Jumlah
anak cukup.
|
|
·
Mengetahui
akibat-akibat vasektomi.
|
|
·
Umur
calon tidak kurang dari 30 tahun
|
|
·
Umur
istri tidak kurang dari 20 tahun dan tidak lebih dari 45 tahun
|
|
·
Pasangan
suami-istri telah mempunyai anak minimal dua orang, dan anak paling kecil
harus sudah berumur diatas dua tahun.
|
G. Yang Sebaiknya Tidak
Mrenjalani Vasektomi (MOP)
1. Infeksi kulit
di sekitar kemaluan
2. Menderita
kencing manis
3. Hidrokel atau
varikokel besar
4. Hernia
inguinalis
5. Anemia berat,
gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan antikoagulansi
H. Waktu Pelaksanaan
Vasektomi (MOP)
1. Tidak
ada batasan usia, dapat dilaksanakan bila diinginkan. Yang penting sudah
memenuhi syarat sukarela, bahagia, dan faktor kesehatan
2. Istri
beresiko tinggi
I. Persiapan Sebelum Tindakan
Vasektomi (MOP)
Hal-hal yang perlu
dilakukan oleh calon peserta kontap pria adalah :
1. Tidur
dan istirahat cukup
2. Mandi
dan membersihkan daerah sekitar kemaluan
3. Makan
terlebih dahulu sebelum berangkat ke klinik
4. Dating
ke klinik tempat operasi dengan pengantar
5. Jangan
lupa membawa surat persetujuan isteri yang di tanda tangani atau cap jempol
J. Teknik Vasektomi
Vasektomi merupakan
operasi kecil dan merupakan operasi yang lebih ringan dari pada sunat/khitanan
pada pria. Bekas operasi hanya berupa satu luka di tengah atau luka kecil di
kanan kiri kantong zakar (kantung buah pelir) atau scrotum. Vasektomi berguna
untuk menghalangi transport spermatozoa (sel mani) di pipa-pipa sel mani pria
(saluran mani pria
Mula- mula
kulit skrotum di daerah operasi di suci hamakan. Kemudian dialkukan anastesi
likal dengan larutan xilokain. Anastesi dilakukan di kulit skrotum dan jaringan
sekitarnya bagian atas, dan pada jarinagan sekitar vas deferens. Vas dicari dan
setalah ditentukan lokasinya, di pegang sedekat mungkin dibawah kulit skrotum.
Setelah itu di lakukan sayatan pada kulit skrotum seitar 0,5 sampai 1 cm di
dekat tempat vas deferens. Setelah vas deferens kelihatan, di jepit dan
dikeuarkan dari sayatan (harus dioyakinkan betul, bahwa memang vas yang
dikeluluarkan), vas di potong sepanjang 1 sampai 2 cm dan kedua ujungnya
diikat, setelah kulit dijahit, tindakan diulang pada sebelah yang lain.
Seseorang yang
telah mengalami vasektomi baru dapat dikatakan betul-betul steril jika telah
mengalami 8 samapi 12 ejakulasi setelah vasektomi.
Oleh karena itu
sebelum hal tersebut di atas tercapaimengalami vasektomi baru dapat dikatakan
betul-betul steril jika telah mengalami 8 samapi 12 ejakulasi setelah
vasektomi.
Oleh karena itu
sebelum hal tersebut di atas tercapai,yang bersangkutan dianjurkan pada koitus
memakai cara kontrasepsi lain.
K. Evektifitas vasektomi
Vasektomi adalah
salah satu metode kontrasepsi paling efektif. Angka kegagalan biasanya kurang
dari 0,1%-0,15% pada tahun pertama pemakaian prosedur Vasektomi Tanpa Pisau
(VTP) dilakukan dengan anestesi local dan akses terhadap vas mudah diperoleh,
maka prosedur ini lebih aman dibandingkan teknik kontrasepsi mantap wanita
(BKKBN dalam Afrinossa, 2009).
Adapun evektifitas
vasektomi antara lain:
1. Angka
kegagalan: 0-2,2%, umumnya < 1%.
2. Kegagalan
vasektomi umumnya disebabkan oleh:
o
Sangga
yang tidak terlindung sebelum semen/ejakulat bebas sama sekali dari
spermatozoa.
o
Rekanalisasi
spontan dari vas deferens, umumnyaterjadi setelah pembentukan granuloma
spermatozoa.
o
Pemotongan
dan oklusi struktur jarinagan lain selama operasi.
o
Jarang:
duplikasi congenital dari vas deferens (terdapat lebih dari 1 vas deferens pada
satu sisi) (Hartanto, 1994).
Cara Pemasangan MOP
Mula-mula kulit skrotum di daerah operasi
dibersihkan. Kemudian dilakukan anastesia local dengan larutan xilokain.
Anastesia dilakukan di kulit skrotum dan jaringan sekitarnya di bagian atas,
dan pada jaringan di sekitar vas deferens. Vas dicari dan stelah ditentukan
lokasinya, dipegang sedekat mungkin di bawah kulit skrotum. Setelah itu,
dilakukan sayatan pada kulit skrotum sepanjang 0,5 – 1 cm di dekat tempat vas
deferens. Setelah vas kelihatan, dijepit dan dikeluarkan dari sayatan ( harus
diyakinkan bahwa vas yang dikeluarkan itu ), vas dipotong sepanjang 1 – 2 cm
dan kedua ujungnya diikat. Setelah kulit dijahit, tindakan diulangi pada
sebelah yang lain.
Persiapan Pre-Operatif Vasektomi
o
Klien sebaiknya mandi serta menggunakan pakaian yang bersih dan longgar
sebelum mengunjungi klinik.bila klien tidak cukup waktu untuk mandi,klien
dianjurkan untuk membersihkan daerah skrotum dan inguinal/lipat paha sebelum
masuk ke ruang tindakan.
o
Klien dianjurkan untuk membawa celana khusus untuk menyangga skrotum.
o
Rambut pubis cukup digunting pendek bila menutupi daerah operasi.
o
Cuci/bersihkan daerah operasi dengan sabun dan air kemudian ulangi
sekali lagi dengan larutan antiseptic atau langsung diberi antiseptic (povidon
iodin).
o
Bila dipergunakan larutan povidon Iodin seperti Betadin,tunggu 1 atau 2
menit hingga yodium bebas yang terlepas dapat membunuh mikroorganisme
(Hartanto, 1994)
Anestesi local:
o
Dipakai anestesi local karena murah dan lebih aman, misalnya Lidocine
1-2% sebanyak 1-5 cc atau sejenis
o
Kadang-kadang anestesi local dicampur dengan adrenalin, dengan maksud
mengurangi perdarahan. IPPF tidak menganjurkan kombinasi tersebut karena
adrenalin dapat menyebabkan iskemia dan rasa sakit post-operatif yang
berkepanjangan. Penyuntikan steroid untuk mencegah pembengkakan post-operatif
juga tidak dianjurkan.
o
Jangka menyuntikan anestesi local langsung ke dalam vas deferens, karena
mungkin dapat merusak vena plexus pampini form.
o
Bila calon akseptor mengalami rasa takut atas kegelisahan, dapat
diberikan tranquilizer atau sedative, per oral atau suntikan (Hartanto, 1994).
Anestesi Umum mungkin perlu
dipertimbangkan pada kasus-kasus:
o
Adanya luka parut daerah inguinal atau scrotum yang sangat tebal.
o
Kelainan intra-scrotal seperti hydrocele, varicocele.
o
Alergi terhadap anestesi local (Hartanto, 1994).
5.
Prosedur Tindakan
a. Vasektomi Metode Standar
Prosedur
vasektomi meliputi beberapa langkah tindakan:s
1. identifikasi
dan isolasi vas deferens.
a. Kedua
vas deferens merupakan struktur paling padat di daerah mid-scrotum, tidak
berpulsasi (berbeda dengan pembuluh darah)
b. Kesukaran
kadang-kadang terjadi dalam identifikasi dan isolasi vas deferens seperti pada
keadaan-keadaan:
§
Kulit scrotum tebal
§
Vas deferens yang sangat tipis
§
Spermatic cord yang tebal
§
Testis yang tidak turun
c. Kedua
vas deferens harus diidentifikasi sebelum meneruskan prosedur vasektomi
d. Dilakukan
immobilisasi vas deferens diantara ibu jari dan jari telunjuk atau dengan
memakai klem
e. Dilakukan
penyuntikan anestesi lokal
2. insisi
scrotum
a. vas deferens yang
telah di immobilisasi didepan scrotum hanya ditutupi oleh otot dartos dan kulit
scrotum.
b. Insisi, horizontal
atau vertical
3. memisahkan
lapisan-lapisan superficial dari jaringan-jaringan sehingga vas deferens dapat
di isolasi.
4. oklusi
vas deferens
a. umumnya dilakukan
pemotongan/reseksi suatu segmen dari kedua vas deferens (1-3 cm), yang harus
dilakukan jauh dari epididimis.
b. Ujung-ujung vas
deferens setelah dipotong dapat ditutup dengan:
· Ligasi
·
Dapat dilakukan dengan chromic catgut (ini yang paling
sering dilakukan)
·
Dapat pula dengan benang yang tidak diserap (silk), tetapi
kadang-kadang dapat menyebabkan iritasi jaringan atau granuloma.
·
Ligasi tidak boleh dilakukan terlalu kuat sampai memotong vas deferens,
karena dapat menyebabkan spermatozoa merembes ke jarinag sekitarnya dan terjadi
granuloma.
·
Untuk mencegah kedua ujung vas deferens agar tidak menyambung kembali
(rekanalisasi), ujung vas deferens dapat dilipat kebelakang lalu
diikatkan/dijahitkan pada dirinya sendiri, atau fascia dari vas deferens dapat
ditutupkan diatas satu ujung sehin gga terdapat satu barrier dari jaringan
fascia, atau ujung vas deferens ditanamkan ke dalam jaringan fascia.
o Keuntungan
clips:
Ø Lebih cepat dibandingkan ligasi
Ø Lebih mudah memperhitungkan tekanan yang
diperlukan untuk aplikasi dibandingkan dengan ligasi.
Ø Tantalum, bahan clips, tidak diserap dan
biologisnert.
Ø Potensi reversibilitas besar.
o Umumnya
dipasang 2-3 clips pada masing-masing vas deferens.
5. penutupan
luka insisi
a. dilakukan
dengan catgut, yang kelak akan diserap.
b. Pada insisi 1cm
atau kurang, tidak diperlukan jahitan catgut, cukup ditutup dengan plester saja
b. Vasektomi
Tanpa Pisau (VTP)
Prosedur
VTP: (Hartanto, 1994).
1) Persiapan
pre-operatif:
a. Cukur rambut pubis,
untuk lebih menjamin sterilitas.
b. Tidak perlu puasa
sebelumnya.
2) Mencari, mengenal
dan fiksasi vas deferens, kemudian dijepitdengan klem khusus yang ujungnya
berbentuk tang catut. Lalu disuntikan anestesi local.
3) Dilakukan penusukan pada
garis tengahscroyum dengan alat berujung bengkok dan tajam untuk membuat luka
kecil, yang kemudian dilebarkan sekitar 0,5 cm. akan terlihat vas deferens yang
liat dan keras seperti kawat baja. Selaput pembungkus vas deferens dibuka
secara hati-hati. Setelah pembungkus vas deferens disisihkan ke tepi, akan
tampak jelas saluran sperma (vas deferens) yang berwarna putih mengkilap bagai
mutiara.
4) Selanjutnya dilakukan oklusi
vas deferens dengan ligasi + reseksi suatu segmen vas deferens.
5) Penutupan luka
operasi.
6. Perawatan
Post Operatif vasektomi
Perawatan
post operatif Vasektomi juga minim saja:
1.
istirahat 1-2 jam di klinik.
2.
menghindari pekerjaan berat selama 2-3 hari
3.
kompres dingin/es pada scrotum
4.
analgetika
5.
memakai penunjang scrotum (scrotal support) selama 7-8 hari.
6.
luka operasi jangan kena air selama 24 jam.
7.
sanggama dapat dilakukan secepatnya saat pria sudah menghendaki dan
tidak terasa mengganggu.
7. Perawatan dan Pemeriksaan Pasca Bedah
vasektomi.
Setiap pasca tindakan pembedahan betapapun
kecilnya memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan. Pada pascatindak bedah
vasektomi dianjurkan dilakukan hal – hal sebagai berikut:
a.
Pertahankan band aid selama 3 hari
b.
Luka yang sedang dalam penyembuhan jangan ditarik-tarik atau digaruk.
c.
Boleh mandi setelah 24 jam, asal daerah luka tidak basah. Setelah 3 hari
luka boleh dicuci dengan sabun dan air.
d.
Pakailah penunjang skrotum, usahakan daerah operasi kering.
e.
Jika ada nyeri, berikan 1-2 tablet analgetik seperti paracetamol atau
ibuprofen setiap 4-5 jam.
f.
Hindari mengangkat barang berat dan kerja keras untuk 3 hari.
g.
Boleh berssanggama sesudah hari ke 2-3. Namun untuk mencegah kehamilan,
pakailah kondom atau cara kontrasepsi lain selama 3 bulan atau sampai ejakulasi
15-20 kali.
h.
Periksa semen 3 bulan pasca vasektomi atau sesudah 15-20 kali
ejakulasi (Saifuddin, 2002).
Tata cara pelayanan Vasektomi.
a)
Pra Operasi
Dilakukan
pemeriksaan untuk mengetahui indikasi, kontraindikasi dll yang diperlukan
untuk
kepentingan calon akseptor. Jika ditemukan keadaan yang merupakan kontraindikasi atau
kemungkinan menyebabkan adanya penyulit atau dampak samping lain, pelayanan kontrasepsi mantap harus ditunda.
kepentingan calon akseptor. Jika ditemukan keadaan yang merupakan kontraindikasi atau
kemungkinan menyebabkan adanya penyulit atau dampak samping lain, pelayanan kontrasepsi mantap harus ditunda.
b)
Tahap Operasi.
Dikenal
3 macam tehnik vasektomi, yaitu vasektomi konvensional (dengan
pisau),vasektomi
tanpa pisau dan vas oklusi.
tanpa pisau dan vas oklusi.
c)
Tahap pasca operasi.
Pada
umumnya apabila tindakan medis kontap pria dilakukan secara benar,
keberhasilannya amat tinggi yakni sebesar 99%. Artinya 99 dari 100 persen
vasektomi terjamin untuk tidak mempunyai keturunan lagi. Adanya kegagalan
dimungkinkan karena rekanalisasi spontan.
Vasektomi
dianggap gagal bila :
1. Pada analisa sperma setelah 3 bulan pasca vasektomi
atau setelah 10 - 15 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa.
2. Istri (pasangan) hamil.
Keluhan
dan penyulit yang mungkin terjadi.
Apabila
operasi dilakukan dengan baik dan benar, jarng ditemukan keluhan ataupun
penyulit yang berarti. Karena tingkat pemahaman masyarakat memang ditemukan
beberapa keluhan yang apabila diteliti secara mendalam tidak ada hubungannya
dengan tindakan vasektomi, misalnya :
1)
Impotensi.
Dari
pelbagai penelitian telah dibuktikan bahwa vasektomi tidak menimbulkan
impotensi. Malah pada beberapa pasangan, sering ditemukan hasrat birahi
ini malah makin bertambah setelah vasektomi.
2) Gemuk.
2) Gemuk.
Pelbagai
penelitian membuktikan pula bahwa tidak benar karena vasektomi akseptor
akan
bertambah gemuk. Vasektomi tidak sama dengan kebiri, dan karena itu tidak terjadi perubahan hormonal.
bertambah gemuk. Vasektomi tidak sama dengan kebiri, dan karena itu tidak terjadi perubahan hormonal.
I. Perawatan
Setelah Tindakan Vasektomi (MOP)
1. Istirahat
selama 1-2 hari dan hindarkan kerja berat selama 7 hari
2. Jagalah
kebersihan dengan membersihkan diri secara teratur dan jaga agar luka bekas
operasi tidak terkena air atau kotoran.
3. Makanlah
obat yang diberi dokter secara teratur sesuai petunjuk
4. Pakailah
celana dalam kering dan janagn lupa menggantinya setiap hari
5. Janganlah
bersenggama jika luka belum sembuh. Boleh berhubungan seksual setelah tujuh
hari setelah operasi. Bila isteri tidak menggunakan alat kontrasepsi, senggama
dilakukan dengan memakai kondom sampai 3 bulan setelah operasi.
J. Keuntungan Vasektomi
Ø
Tidak
ada mortalitas (kematian)
Ø
Morbiditas
(akibat sakit) kecil sekali.
Ø
Pasien
tidak perlu dirawat di rumah sakit.
Ø
Dilakukan
anaestesi lokal.
Ø
Ada
kepastian bahwa cara ini efektip (kemungkinan gagal tidak ada) karena dapat
dichek
kepastian di Laboratorium.
kepastian di Laboratorium.
Ø
Tidak
mengganggu hubungan sex selanjutnya dan juga jumlah cairan yang
Ø
Tidak
banyak memerlukan biaya. Yang penting adalah persetujuan dari istri.
Ø
Tidak
menimbulkan kelainan fisik maupun mental
Ø
Tidak
menggangu libido seksualitas
Ø
Dapat
dilakukan secara poliklinis
Ø
Sangat
efektif dan permanen
Ø
Tidak
ada efek samping dalam jangka panjang
Ø
Dapat
mencegah kehamilan lebih dari 99%
Ø
Tindakan
bedah yang aman dan sederhana
K. Kelemahan.
Ø
Harus
dilakukan pembedahan.
Ø
Masih
dimungkinkan ada komplikasi ringan.
Ø
Tidak
seperti sterilisasi wanita yang langsung menghasilkan steril permanen, pada
vasektomi masih harus menunggu beberapa hari, minggu atau bulanan sampai
sel mani menjadi negatif.
Ø
Tidak
dapat dilakukan pada orang yang masih ingin mempunyai anak lagi.
REFERENSI
1. Meilani, Niken Dkk . 2010. Pelayanan Keluarga
Berencana .Fitramaya ; Yogyakarta
2. Pinem, Saroha .2009. Kesehatan Reproduksi dan
Kontrasepsi .TIM ; Jakarta
3. Manuaba, Dkk . 2010 . Ilmu Kebidanan , Penyakit
Kandungan , dan KB . EGC ; Jakarta
4. Sarwono.2003. Buku panduan Praktis Pelayanan
Kontrasepsi .YBSP ; Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar